<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6843126251712862274</id><updated>2012-02-15T22:53:19.635-08:00</updated><category term='KUMPULAN ASKEP'/><category term='ASKEP BEDAH'/><title type='text'>EMOND22.COM</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sugeng-presiadi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6843126251712862274/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sugeng-presiadi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>emond22</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_-TF7OeCnLxM/SU0OTQeLDZI/AAAAAAAAAAs/IL-spTU2m78/S220/logo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6843126251712862274.post-5030104540050063855</id><published>2009-11-06T17:15:00.000-08:00</published><updated>2009-11-06T17:15:52.692-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KUMPULAN ASKEP'/><title type='text'>PNEUMONIA + GAGAL NAFAS</title><content type='html'>LAPORAN PENDAHULUAN &lt;br /&gt;PNEUMONIA + GAGAL NAFAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGERTIAN &lt;br /&gt;• Pneumonia adalah Suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing (FKUI).&lt;br /&gt;• Pneumonia adalah Radang parenkim paru. Menurut anatomi, pneumonia dibagi menjadi pneumonia laboris, pneumonia lobularis, bronkopneumonia &amp; pneumonia interstisialis. (Makmuri, MS.)&lt;br /&gt;• Pneumonia adalah Suatu radang paru-paru yang ditandai oleh adanya konsolidasi exudat yang mengisi alveoli dan bronchiolus ( Axton )&lt;br /&gt;• Pneumonia adalah radang paru-paru yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam, seperti bakteri, virus, jamur, dan benda-benda asing.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;KLASIFIKASI&lt;br /&gt;Berdasarkan anatomiknya, pneumonia dibagi atas pneumonia lobaris, pneumonia lobularis (bronchopneumonia) dan pneumonia interstitial (bronchitis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan etiologinya, dibagi atas;&lt;br /&gt;1. Bakteri &lt;br /&gt;• Pneumokok, merupakan penyebab utama pneumonia. Pada orang dewasa umumnya disebabkan oleh pneumokok serotipe 1 samapi dengan 8. Sedangkan pada anak-anak serotipe 14, 1, 6, dan 9. Inseiden meningkat pada usia lebih kecil 4 tahun dan menurun dengan meningkatnya umur.&lt;br /&gt;• Steptokokus, sering merupakan komplikasi dari penyakit virus lain, seperti morbili dan varisela atau komplikasi penyakit kuman lainnya seperti pertusis, pneumonia oleh pnemokokus.&lt;br /&gt;• Basil gram negatif seperti Hemiphilus influensa, Pneumokokus aureginosa, Tubberculosa.&lt;br /&gt;• Streptokokus, lebih banyak pada anak-anak dan bersifat progresif, resisten terhadap pengobatan dan sering menimbulkan komplikasi seperti; abses paru, empiema, tension pneumotoraks.&lt;br /&gt;2. Virus&lt;br /&gt;• Virus respiratory syncytial, virus influensa, virus adeno, virus sistomegalik.&lt;br /&gt;3. Aspirasi&lt;br /&gt;4. Pneumonia hipostatik&lt;br /&gt;• Penyakit ini disebabkan tidur terlentang terlalu lama.&lt;br /&gt;5. Jamur&lt;br /&gt;6. Sindroma Loeffler. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PATOFISIOLOGI :&lt;br /&gt;NORMAL&lt;br /&gt;(Sistem Pertahanan)&lt;br /&gt;Terganggu&lt;br /&gt;Organisme  sal nafas bag bawah&lt;br /&gt;Virus Pneumokokus Stapilokokus&lt;br /&gt;Merusak sel epitel bersilia, Alveoli Toksin, Coagulase&lt;br /&gt;sel goblet&lt;br /&gt;Eksudat masuk Trombus &lt;br /&gt;Kuman patogen mencapai ke Alveoli&lt;br /&gt;bronkioli terminalis&lt;br /&gt;Cairan edema + leukosit Sel darah merah, Permukaan&lt;br /&gt;ke alveol leukosit, pneumokokus pleura tertutup&lt;br /&gt;mengisi alvioli lapisan tebal&lt;br /&gt;eksudat.&lt;br /&gt;Konsilidasi Paru Leukosit + Fibrin Trombus Vena&lt;br /&gt;Mengalami konsolidasi Pulmonalis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapasitas Vital, Lekosit lisis Nekrosis-&lt;br /&gt;Compliance menurun Hemoragik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abses,&lt;br /&gt;Pneumatocele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GEJALA KLINIK&lt;br /&gt;Bronchopneumoni biasanya didahului oleh infeksi traktus respiratorius bagian atas selama  C.dan mungkinbeberapa hari. Suhu dapat naik mendadak sampai 30 - 40  disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, sesak dan sianosis sekunder hidung dan mulut, pernapasan cuping hidung merupakan trias gejala patognomik. Kadang-kadang disertai muntah dan diare. Batuk mula-mula kering kemudian jadi produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMERIKSAAN FISIK&lt;br /&gt;Pada stadium awal sukar dibuat diagnosa dengan pemeriksaan fisik. Tapi dengan adanya napas cepat dan dangkal, pernapasan cuping hidung, serta sianosis sekitar hidung dan mulut. Harus dipikirkan kemungkinan pneumonia. Hasil pemeriksaan fisik tergantung dari pada luas daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan. Pada auskultasi suara napas vesikuler dan lemah. Terdapat ronchi basah halus dan nyaring. Jika sering bronchopneumonia menjadi satu (confluens) mungkin pada perkusi terdengar keredupan dan suara napas mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMERIKSAAN PENUNJANG&lt;br /&gt;Secara laboratorik ditemukan  dengan pergeseran ke kiri.lekositosis, biasanya 15.000 - 40.000 / m LED meninggi. Pengambilan sekret secara broncoskopi dan fungsi paru-paru untuk preparat langsung; biakan dan test resistensi dapat menentukan / mencari etiologinya. Tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar. Pada punksi misalnya dapat terjadi salah tusuk dan memasukkan kuman dari luar. Foto rontgen dilakukan untuk melihat :&lt;br /&gt;• Komplikasi seperti empiema, atelektasis, perikarditis, pleuritis, dan OMA.&lt;br /&gt;• Luas daerah paru yang terkena.&lt;br /&gt;• Evaluasi pengobatan&lt;br /&gt;Pada bronchopnemonia bercak-bercak infiltrat ditemukan pada salah satu atau beberapa lobur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGOBATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bila dispnea berat berikan Oksigen&lt;br /&gt;2. IVFD ; cairan DG 10 % atau caiara 24 Kcl, Glukosa 10 % tetesan dibagi rata dalam 24 jam.&lt;br /&gt;3. Pengobatan: Penicilin Prokain 50.000 unit / kg BB / hari dan Kloramfenikol 75 mg / kg BB/ hari dibagi dalam 4 dosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROGNOSIS&lt;br /&gt;Dengan menggunakan antibiotika yang tepat dan cukup, mortalitas dapat diturunkan sampai kurang dari 1 %. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASUHAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;A. PENGKAJIAN&lt;br /&gt;I. Anamnesa :&lt;br /&gt;1. Identitas&lt;br /&gt;2. Keluhan Utama&lt;br /&gt; Sesak napas&lt;br /&gt;3. Riwayat Penyakit sekarang, tanyakan :&lt;br /&gt; Apakah masih ada batuk, berapa lama&lt;br /&gt; Apakah masih ada panas badan&lt;br /&gt; Apakah nyeri dada kalau batuk&lt;br /&gt; Apakah ada riak kalau batuk&lt;br /&gt;4. Riwayat kesehatan yang lalu, tanyakan :&lt;br /&gt; Frekuensi ISPA&lt;br /&gt; Riwauat Alergi&lt;br /&gt; Kebiasaanmerokok&lt;br /&gt; Pengguaan obat-obatan&lt;br /&gt; Imunisasi &lt;br /&gt; Riwayat penyakit keturunan&lt;br /&gt;5. Riwayat Keluarga, tannyakan:&lt;br /&gt; Apakah ada keluarga yang menderita batuk&lt;br /&gt; Apakah ada keluarga yang menderita alergi&lt;br /&gt; Apakah ada keluarga yang menderita TBC, Cancer paru&lt;br /&gt;6. Riwayat Lingkungan&lt;br /&gt; Apakah rumah dekat dengan pabrik&lt;br /&gt; Apakah banyak asap atau debu&lt;br /&gt; Apakah ada keluarga yang merokok&lt;br /&gt;7. Riwayat pekerjaan, tanyakan :&lt;br /&gt; Apakah bekerja pada tempat yang banyak debu,asap&lt;br /&gt; Apakah bekerja di pabrik&lt;br /&gt; Apakah saat bekerja menggunakan alat pelindung.&lt;br /&gt;II.Pengkajian Fisik&lt;br /&gt;1. Ispeksi: &lt;br /&gt; Amati bentuk thorax&lt;br /&gt; Amati Frekuensi napas, irama, kedalamannya&lt;br /&gt; Amati tipe pernapasan : Pursed lip breathing, pernapasan diapragma, penggunaan otot Bantu pernapasan&lt;br /&gt; Tanda tanda reteraksi intercostalis , retraksi suprastenal&lt;br /&gt; Gerakan dada&lt;br /&gt; Adakan tarikan didinding dada , cuping hidung, tachipnea&lt;br /&gt; Apakah daa tanda tanda kesadaran meenurun&lt;br /&gt;2. Palpasi &lt;br /&gt; Gerakan pernapasan&lt;br /&gt; Raba apakah dinding dada panas&lt;br /&gt; Kaji vocal premitus&lt;br /&gt; Penurunan ekspansi dada&lt;br /&gt;3. Auskultasi&lt;br /&gt; Adakah terdenganr stridor&lt;br /&gt; Adakah terdengar wheezing&lt;br /&gt; Evaluasi bunyi napas, prekuensi,kualitas, tipe dan suara tambahan&lt;br /&gt;4. Perkusi&lt;br /&gt; Suara Sonor/Resonans merupakan karakteristik jaringan paru normal&lt;br /&gt; Hipersonor , adanya tahanan udara&lt;br /&gt; Pekak/flatness, adanya cairan dalan rongga pleura&lt;br /&gt; Redup/Dullnes, adanya jaringan padat&lt;br /&gt; Tympani, terisi udara.&lt;br /&gt;III.Pemeriksaan Diagnostik&lt;br /&gt;Radiologi&lt;br /&gt;Analisa Gas Darah&lt;br /&gt;Darah Lengkap, Urine lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;1. Ketidak epektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan produk mucus berlebihan dan kental, batuk tidak epektif.&lt;br /&gt;2. Gangguan pertukaran Gas berhubungan dengan proses inflamasi paru&lt;br /&gt;3. Intolernsi aktifitas berhubungan dengan kelelahan sekunder terhadap peningkatan upaya pernapasan&lt;br /&gt;4. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan demam kehilangan cairan , masukan cairan kurang karena dispnea &lt;br /&gt;5. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi paru&lt;br /&gt;6. Cemas / takut berhubungan dengan hospitalisasi (ICU)&lt;br /&gt;7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai proses penyakit, prosedur perawatan di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NURSING DIAGNOSIS&lt;br /&gt;PRIMARY NURSING DIAGNOSIS&lt;br /&gt;1. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan infeksi paru&lt;br /&gt;2. Aadefisit volume cairan berhubungan dengan Respiratory distress, penurunan intake cairan. berhubungan dengan&lt;br /&gt;RELATED NURSING DIAGNOSIS&lt;br /&gt;1. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan respiratory distress, anoreksia, vomiting, peningkatan konsumsi kalori sekunder terhadap infeksi.&lt;br /&gt;2. Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan Respiratory distress, lethargy, penurunan intake cairan dan makanan, demam.&lt;br /&gt;3. Kecemasan : anak berhubungan dengan hospitalisasi, respiratory distress.&lt;br /&gt;NURSING CARE PLAN.&lt;br /&gt;1. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan infeksi paru-paru.&lt;br /&gt; Tujuan :Anak akan menunjukkan pola nafas yang efektif&lt;br /&gt; Kreteria :&lt;br /&gt;• RR dalam batas normal, suara nafas bersih, suhu dalam batas normal&lt;br /&gt;• Tidak ditemukan : batuk, PCH, Retraksi, Sianosis.&lt;br /&gt;• Jumlah sel darah putih normal.&lt;br /&gt;• Rongsent dada bersih&lt;br /&gt;• Saturasi oksigen 85 % - 100 %.&lt;br /&gt; Intervensi Keperawatan :&lt;br /&gt;1. Observasi : RR, suhu, suara naafas&lt;br /&gt;2. Lakukan fioterapi dada kerjakan sesuai jadwal&lt;br /&gt;3. Berikan oksigen yang dilembabkan sesuai indikasi&lt;br /&gt;4. Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai advis&lt;br /&gt; INITERVENSI KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Kaji dan catat&lt;br /&gt; Suhu tubuh&lt;br /&gt; intake dan output &lt;br /&gt; Tanda / gejala kekurangan cairan&lt;br /&gt; Bj urine&lt;br /&gt;2. Lakukan perawatan mulut&lt;br /&gt;3. Beri cairan sesuai advis&lt;br /&gt;4. Kaji dan catat pengetahuan dan partisipasi keluarga dalam : &lt;br /&gt; Monitoring intake dan output&lt;br /&gt; Mengenali tanda dan gejala kekurangan cairan&lt;br /&gt;5. Ciptakan situasi / area yang nyaman&lt;br /&gt;6. Lakukan suction bila perlu&lt;br /&gt;7. Periksa dan catat hasil X – Ray dada &lt;br /&gt;8. Obs. Saturasi oksigen &lt;br /&gt;9. Kaji dan catat pengetahuan dan partisipasi keluarga dlm :&lt;br /&gt; Fisioterapi dada&lt;br /&gt; Pemberian obat-obatan&lt;br /&gt; Mengenali tanda / gejala ketidak efektifan pola nafas&lt;br /&gt;10. Ciptakan situasi / area yang nyaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Defisit volume cairan b/d Respiratory distress, penurunan intake cairan, demam &lt;br /&gt;Tujuan : Anak akan menunjukkan volume cairan yang adekuat. &lt;br /&gt;Kriteria : &lt;br /&gt; Intake cairan adequat, iv dan atau oral&lt;br /&gt; Tidak adanya lethargi, muntah, diare&lt;br /&gt; Suhu tubuh normal, mukosa membran lembab&lt;br /&gt; Turgor kulit kembali cepat&lt;br /&gt; Urine output normal, Bj urine normal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6843126251712862274-5030104540050063855?l=sugeng-presiadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sugeng-presiadi.blogspot.com/feeds/5030104540050063855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6843126251712862274&amp;postID=5030104540050063855' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6843126251712862274/posts/default/5030104540050063855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6843126251712862274/posts/default/5030104540050063855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sugeng-presiadi.blogspot.com/2009/11/pneumonia-gagal-nafas.html' title='PNEUMONIA + GAGAL NAFAS'/><author><name>emond22</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_-TF7OeCnLxM/SU0OTQeLDZI/AAAAAAAAAAs/IL-spTU2m78/S220/logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6843126251712862274.post-2645231605267325466</id><published>2009-11-06T17:12:00.000-08:00</published><updated>2009-11-06T17:12:43.432-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP BEDAH'/><title type='text'>HEMATOTORAK</title><content type='html'>LAPORAN PENDAHULUAN&lt;br /&gt;            ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN KEGAGALAN PERNAPASAN PADA &lt;br /&gt;         TORAKOTOMI AKIBAT    HEMATOTORAK YANG DIPASANG VENTILATOR MEKANIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;Hematotorak adalah adanya darah pada rongga pleura (Reksoprodjo S, 1995).&lt;br /&gt;Torakotomi adalah tindakan life saving untuk menhentikan kelainan yang terjadi karena pendarahan (Reksoprodjo, S, 1995).&lt;br /&gt;Gagal pernapasan akut (GPA) adalah tidak berfungsinay pernapsan pada derajad dimana pertukaran gas tidak adekuat untuk mempertahankan gas darah secar adekuat ( Hudak and Gallo, 1994).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;. Patofisiologi dikaitkan dengan perubahan kebutuhan dasar manusia.&lt;br /&gt;Kecelakaan Lalulintas&lt;br /&gt;Menyebabkan ruda paksa tumpul pada toraks dan abdoment. &lt;br /&gt;Diikuti dengan patah tulang tertutup.&lt;br /&gt;Trauma torak (Hematotorak) Trauma abdoment Patah tulang&lt;br /&gt;Pendarahan jaringan interstitium, Pendarahan Intra alviolar, kolaps arteri dan kapiler, kapiler kecil, hingga tahanan periver pembuluh darah paru naik , aliran darah menurun.&lt;br /&gt;HB turun, sesak napas nyeri dada, pergerakan napas pendek&lt;br /&gt;1. Gangguan pertukaran gas.&lt;br /&gt;2. Pola pernapasan tidak efektif&lt;br /&gt;Kompensasi untuk mengurangi nyeri pasien berbaring dan takut bergerak, takut ngantuk.&lt;br /&gt;Reflek batuk menurun.&lt;br /&gt;3. Pembersihan jalan nafas tidak efektif. Pecahnya usus sehingga terjadi pendarahan&lt;br /&gt;, DN  , t Vs : T  &lt;br /&gt;4. Hipertermi&lt;br /&gt;5. Resiko defisit volume cairan &lt;br /&gt;Nyeri tekanan +, defance muskular +, suara bising usus -, kembung.&lt;br /&gt;6. Gangguan rasa nyaman (nyeri).&lt;br /&gt;7. Gangguan pola pernapasan.&lt;br /&gt;Terputusnya / hilangnya kontinuitas dari struktur tulang.&lt;br /&gt;Nyeri gerak, deformitas, krepitase.&lt;br /&gt;Gerakan abnormal di lokasi patah tulang&lt;br /&gt;8. Gangguan mobilitas&lt;br /&gt;3. Data fokus&lt;br /&gt;3.1 Aktifitas/istirahat : adanya sesak nafas&lt;br /&gt;3.2 Sirkulasi : adanya takhikardia, frekuensi denyut nadi tidak teratur, tekanan darah menurun, didapatkan adanya S3 atau S4 /irama gallop&lt;br /&gt;3.3 Integritas : ketakutan dan gelisah&lt;br /&gt;3.4 Makanan/cairan : adanya pemasangan infus IV line&lt;br /&gt;3.5 Nyeri/kenyamanan : Nyeri dada unilateral, meningkat bila bernapas dan batuk, wajah berkerut karena menahan nyeri&lt;br /&gt;3.6 Pernapasan : takipnea, peningkatan kerja napas, retraksi interkostal, perkusi pekak, palpasi gerakan dada tidak simetri (paradoksal).&lt;br /&gt;Kulit pucat, sianosis, berkeringat&lt;br /&gt;Penggunaan ventilator mekanik&lt;br /&gt;3.7 Keamanan : riwayat trauma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemeriksaan diagnostik :&lt;br /&gt;3.1 Sinar x dada menyatakan adanya akumulasi cairan&lt;br /&gt;3.2 Analisa gas darah : PaCO2 meningkat &gt; 45, PaO2 menurun&lt; 80, saturasi oksigen menurun 3.3 Kadar Hb menurun &lt; 10 gr % 3.4 Volume tidak menurun &lt; 500 ml 3.5 Kapasital vital paru menurun 4. Prioritas keperawatan : 1. Meningkatkan ventilasi dan oksigenisasi secara adekuat 2. Mencegah komplikasi 3. Memberikan dukungan emosional kepada pasien dan keluarga 4. Memberikan informasi tentang proses penyakit dan kebutuhan pengobatan 5. Rencana keperawatan 5.1 Diagnosa keperawatan : pola pernapasan tidak efektif berhubungan dengan gangguan rasio O2 dan CO2. Data : perubahan frekuensi nafas, retraksi interkostal, penurunan vital kapasitas paru, takipnea atau henti nafas bila ventilator dihentikan, sianosis, penurunan PO2 &lt; 80, peningkatan CO2 &gt; 45, peningkatan saturasi oksigen, gelisah&lt;br /&gt;Tujuan keperawatan : Pola pernapasan efektif melalui ventilator tanpa adanya penggunaan otot bantu pernapasan&lt;br /&gt;Kriteria hasil : Saturasi oksigen normal, tidak ada hipoksia, kapasital vital normal, tidak ada sianosis&lt;br /&gt;Rencana tindakan :&lt;br /&gt;1. Selidiki penyebab gagal pernapasan, rasional pemahaman tentang penyebab kegagalan pernapasan penting untuk memberikan perawatan.&lt;br /&gt;2. Observasi pola napas dan catat frekuensi pernapasan, jarak antara pernapasan spontan dan napas ventilator, rasional pasien dengan pemasanagn ventilator dapat mengalami hiperventilasi/hipoventilasi dan pasien berupaya memperbaiki kekurangan oksigen dengan peningkatan pola pernapasan sehingga frekuensi meningkat.&lt;br /&gt;3. Auskultasi dada secara periodik, catat bila ada kelainan bunyi pernapasan. Rasional : Memberikan informasi tentang adanya obsturksi jalan nafas, perubahan simetrisitas dada menunjukkan tidak tepatnya letak selang endotrakeal.&lt;br /&gt;4. Jumlahkan pernapasan pasien selama 1 menit penuh dan bandingkan untuk menyusun frekuensi yang diinginkan ventilator. Rasional : Pernapasan pasien cepat menimbulkan alkalosis respiratorik, sednagkan pernapasan pasien lambat menimbulkan asidosis ( peningkatan PaCO2)&lt;br /&gt;5. Kembangkan balon selang endotrakeal dengan tepat menggunakan tehnik hambatan minimal, periksa pengembangan tiap 4 jam. Rasional : balon harus tepat mengembang untuk meyakinkan ventilasi adekuat sesuai volume tidak yang diinginkan&lt;br /&gt;6. Periksa selang bila ada sumbatan/lipatan. Rasional lipatan selang menghambat aliran volume udara adekuat. Adanya air memungkinkan tumbuhkan kuman sehingga pencetus terjadinya kolonisasi kuman.&lt;br /&gt;7. Periksa fungsi alarm ventilator. Rasional : ventilator mempunyai berbagai alarm sehingga kelainan dini bisa terdeteksi misalnya adanya penurunan tekanan gas, saturasi oksigen, rasio inspirasi dan ekspirasi dsb.&lt;br /&gt;8. Bantu pasien dalm kontorl pernapasan bila penyapihan diupayakan. Rasional melatih pasien untuk bernapas secara lambat denga cara nafas abdomen dan penggunaan tehnik relaksasi sehingga fungsi pernapasan bisa maksimal.&lt;br /&gt;9. Kolaborasi untuk pemeriksaan analisa gas darah sesuai pesanan. Rasional untuk mengetahui keberhasilan pemberian bantuan napas.&lt;br /&gt;10. Kaji volume tidal. Rasional untuk menentukan jumlah udara inspirasi dan ekspirasi&lt;br /&gt;11. Awasi rasio inspirasi den ekspirasi. Rasional : fase ekspirasi biasanya 2 kali panjangnya dari kecepatan inspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2 Diagnosa keperawatan : tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan adanya sekret pada jalan nafas akibat ketidakmampuan batuk efektif.&lt;br /&gt;Data : Perubahan frekuensi nafas, sianosis, bunyi nafas tidak normal (stridor), gelisah&lt;br /&gt;Tujuan keperawatan : Pasien mampu mempertahankan jalan nafas bersih tanpa ada kelainan bunyi pernapasan.&lt;br /&gt;Kriteria hasil : Tidak ada stridor, frekuensi napas normal&lt;br /&gt;Rencana keperawatan :&lt;br /&gt;1. Observasi bunyi nafas. Rasional : obstruksi disebabkan adanya akumulasi sekret, spasme bronkus, perlengketran muskosa, dan atau adanya masalah terhadap endotrakeal.&lt;br /&gt;2. Evaluasi gerakan dada. Rasional : gerakan dada simetris dengan bunyi nafas menunjukkan letak selang tepat. Obstruksi jalan nafas bawah menghasilkan perubahan bunyi nafas seperti ronkhi dan whezing.&lt;br /&gt;3. Catat bial ada sesak mendadak, bunyi alarm tekanan tinggi ventilator, adanya sekret pada selang. Rasional : pasien dengan intubasi biasanya mengalami reflek batuk tidak efektif.&lt;br /&gt;4. Hisap lendir, batasi penghisapan 15 detik atau kurang, pilih kateter penghisap yang tepat, isikan cairan garam faali bila diindikasikan. Gunakan oksigen 100 % bila ada. &lt;br /&gt;Rasional : penghisapan tidak harus ruitn, dan lamanya harus dibatasi untuk mengurangi terjadinya hipoksia. Diamter kateter &lt; diameter endotrakel. 5. Lakukan fisioterapi dada sesuai indikasi. Rasional untuk meningkatkan ventilasi pada semua segmen paru dan untuk drainage sekret. 6. Berikan bronkodilator sesuai pesanan. Rasional untuk meningkatkan ventilasi dan mengencerkan sekret dengan cara relaksasi otot polos bronkus. 5.3 Diagnosa keperawatan : Resiko tinggi perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan tidak efektifnya bersihan oral. Tujuan keperawatan : Pasien mampu menunjukkan kesehatan mukosa mulut dengan tepat tanpa adanya tanda peradangan. Kriteria hasil : Tanda peradangan mukosa mulut tidak ada, mulut bersih dan tidak berbau. Rencana tindakan : 1. Observasi secara rutin rongga mulut, gigi, gusi terhadap adanya luka atau pendarahan. Rasional : identifikasi dini memberikan kesempatan untuk pencegahan secara tepat. 2. Berikan perawatan mulut secara rutin. Rasional : Mencegah adanya luka membran mukosa mulut dan menurunkan media pertumbuhan bakteri dan meningkatkan kenyamanan. 3. Ubah posisi selang endotrakeal sesuai jadual. Rasional : menurunkan resiko luka pada bibir dan membran mukosa mulut. 4. Berikan minyak bibir. Rasional: mempertahankan kelembaban dan mencegah kekeringan. 5.4 Diagnosa keperawatan : perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan kemampuan mencerna. Data : penurunan berat badan, tonus otot lemah, peradangan pada mulut, bunyi usus lemah. Tujuan keperawatan : Kebutuhan nutrisi cukup Kriteria hasil : berat badan naik, albumin serum normal, tonus otot kuat Rencana keperawatan : 1. Evaluasi kemampuan makan. Rasional : pasien dengan selang endotrakeal harus terpenuhi kebutuhan makannya melalui parenteral atau selang makan. 2. Observai penurunan kekuatan otot dan kehilangan lemak subkutan. Rasional : penurunan jumlah komponen gizi mengakibatkan penurunan cadangan energi pada otot dan dapat menurunkan fungsi otot pernapasan. 3. Timbang berat badan bila memungkinkan. Rasional untuk mengetahui bahwa kehilangan berat badan 10 % merupakan abnormal. 4. Catat masukan oral bila memungkinkan 5. Berikan masukan cairan sedikitnya 2500 cc/ hari. Rasional : untuk mencegah adanya dehidrasi. 6. Awasi pemeriksaan laboratorium : serum, glukosa, dan BUN/kreatinin. Rasional : memberikan informasi tentang dukungan nutrisi adekuat atau tidak. 5.5 Diagnosa keperawatan : resiko terhadap infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh. Tujuan keperawatan : pasien menunjukkan tidak terdapat adanya tanda infeksi selama perawatan. Kriteria hasil : daya tahan tubuh meningkat, diff. Count normal, penurunan monosyt tidak ada, lekosit normal : &gt;10.000/mm&lt;br /&gt;Rencana keperawatan :&lt;br /&gt;1. Catat faktor resiko terjadinya infeksi. Rasional : faktor yang menyebabkan adanya infeksi antara lain; malnutrisi, usia, intubasi, pemasangan ventilator lama, tindakan invasif. Faktor ini harus dibatasi/diminimalkan.&lt;br /&gt;2. Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan. Rasional untuk mengurangi sekunder infeksi&lt;br /&gt;3. Pertahankan hidrasi adekuat dan nutrisi. Rasional, membantu peningkatan daya tahan tubuh.&lt;br /&gt;4. Kolaborasi dengan pemberian antibitika sesuai pesanan. Rasional : untuk membunuh dan mengurangi adanya kuman.&lt;br /&gt;5.6 Diagnosa keperawatan : resiko tinggi disfungsi respons penyapihan ventilator berhubungan dengan ketidak mampuan untuk penyapihan.&lt;br /&gt;Tujuan perawatan : pasien mampu aktip untuk berpartisipasi dalam proses penyapihan.&lt;br /&gt;Kriteria hasil : tanga gagal nafas tidak ada&lt;br /&gt;Rencana keperawatan :&lt;br /&gt;1. Kaji faktor fisik dalam proses penyapihan : vital sign. Rasional : penyapihan adalah kerja keras, peningkatan suhu indikasi peningkatan kebutuhan oksigen 7 %, takikardia dan hipertensi menandai jantung kerja keras dalam bekerja sehingga penyapihan tidak diperbolehkan, stres dalam penyapihan mengurangi stamina sehingga daya tahan tubuh menurun.&lt;br /&gt;2. Tentukan persipan psikologis. Rasional : penyapihan menimbulkan stress.&lt;br /&gt;3. Jelaskan tehnik penyapihan. Rasional : membantu pasien untuk siap mengadapi penyapihan.&lt;br /&gt;4. Berikan periode istirahat tanpa gangguan. Rasional : memaksimalkan energi untuk proses penyapihan.&lt;br /&gt;5. Catat kemajuan pasien. Rasonal : untuk mengetahui perkembangan dalam proses penyapihan.&lt;br /&gt;6. Awasi respons terhadap aktivitas. Rasional : kebutuhan oksigen berlebih bila aktifitas berlebih.&lt;br /&gt;7. Kaji foto dada dan analisa gas darah. Rasional : saturasi oksigen harus memuaskan dengan cek analisa gas darah, FIO2 &lt; 40 % Indikasi Ventilasi Mekanik: Parameter Nilai Tindakan Frekuensi pernapasan Kapasitas vital Tekanan inspirasi Analisa gas darah : Ph PaCo2 PaO2 Auskultasi paru Irama dan frekuensi jantung Status mental &lt; 10 x/mt 16-20 x/mt 28-40 x/mt &lt; 10-20 ml &lt; 20 cm H2O &lt; 7.25 &gt;50 mmHg&lt;br /&gt;&lt;50 mmHgtidak ada bunyi120 x/mtdelirium, somnolen Evaluasi dan hilangkan etio.NormalRencanakan ventilatorLihat AGDEvaluasi dan kombinasi dengan peningkatan PaCO2Evaluasi dikombinasi dengan penurunan PhEvaluasi dikombinasi dengan Ph dan PCO2Beri oksigen 100 %Monitor disritmiaMonitor kemungkinan kejang hipoksiaStandar pengesetan ventilator :1. Fraksi oksigen ( Fi O2) inspirasi 100 %2. VT = 10-15 ml/KgBB3. Frekuensi pernapasan = 10-15 x/menit4. Aliran inspirasi = 40-60 l/dt5. Sensitivitas = -2 cm H2O6. Tekanan ekspirasi akhir positif ( TEAP) = 0-5 cmPengesetan ditentukan oleh AGDJumlah oksigen yang diberikan dengan rumus : CJ x ( 1,34. Hb.SaO2 + 0,003 . PaO2)Kriteria Penyapihan :1. Kapasitas vital = 10-15 cc/Kg2. VT = 4-5 cc/Kg3. Ventilasi per menit = 6-10 liter4. Kekuatan inspirasi = 20 cm H2O5. GDA normal6. Selang endotrakeal 7. ; di atas karina pada foto rongent, diameter 8,5 mm8. Nutrisi 2000-2500 kal/hari9. Kesiapan emosi baik10. Tanda fisik stabil.Indikator penyapihan : Perbaikan penyebab kegagalan pernapasan, mempertahankan kekuatan otot, nutrisi sesuai, persiapan psikologis.Daftar pustaka Hudak and Gallo, (1994), Critical Care Nursing, A Holistic Approach, JB Lippincott company, Philadelpia. Marilynn E Doengoes, et all, alih bahasa Kariasa IM, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, EGC, Jakarta. Reksoprodjo Soelarto, (1995), Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta. Suddarth Doris Smith, (1991), The lippincott Manual of Nursing Practice, fifth edition, JB Lippincott Company, Philadelphia. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6843126251712862274-2645231605267325466?l=sugeng-presiadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sugeng-presiadi.blogspot.com/feeds/2645231605267325466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6843126251712862274&amp;postID=2645231605267325466' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6843126251712862274/posts/default/2645231605267325466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6843126251712862274/posts/default/2645231605267325466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sugeng-presiadi.blogspot.com/2009/11/hematotorak.html' title='HEMATOTORAK'/><author><name>emond22</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_-TF7OeCnLxM/SU0OTQeLDZI/AAAAAAAAAAs/IL-spTU2m78/S220/logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
